Minggu, 22 April 2012

BUDAYA CIUM TANGAN


Allah telah membekali manusia dengan sifat-sifat mulia. Diantaranya adalah rasa ingin menghormati kepada makhluk. Maka jangan  heran kalau ada aba-aba  atau isyarat hormat dalam baris berbaris (hormat gerak!) pada semua aturan kemiliteran di dunia. Hanya saja masing-masing orang mempunyai cara-cara tersendiri untuk menghormati. Orang Jepang misalnya, menghormat dilakukan dengan cara membungkukkan badan, di India untuk menghormat kepada orang tua seorang anak menyentuh kakinya, team sepak bola  nasional Meksiko meletakkan tangannya lurus di depan dada untuk menghormati lagu kebangsaannya, Letnan Marsose melepas topinya dan membungkuk menghormat kepada jenazah Cut Nya’ Dien seorang pejuang wanita yang gigih. Bahkan di dunia kejahatanpun, manusia juga saling hormat, seperti anak buah kelompok mafia yang mencium tangan sang kepala keluarga mafia.  So.. semua manusia punya jiwa saling hormat dan yang nggak mau saling hormat ya… berarti bukan manusia.
Budaya Mencium Tangan
Mencium tangan adalah salah satu cara untuk menghormati dan menghargai orang lain. Cara ini bukan meniru cara mafia seperti dalam film, tapi mencium tangan sebagai tanda hormat dan menghargai dicontohkan Nabi Muhammad 1500 tahun yang lalu. Dalam sebuah hadits diceritakan, suatu saat ada seorang lelaki ditanya oleh Nabi tentang tangannya yang lebam, kemudian lelaki tersebut menjawab bahwa tangannya lebam karena bekerja yang halal untuk menafkahi keluarganya. Seketika itu Nabi kemudian memegang tangan orang itu dan menciumnya.
Al-Dzahabi dalam Kitabnya Al-Mu’jam Al-Suyukh menulis bahwa para sahabat Nabi ketika Nabi Muhammad SAW masih hidup selalu berebut untuk mencium tangan beliau sebagai tanda penghormatan dan cinta. Kebiasaan ini kemudian dilanjutkan oleh para sahabat , tabiin, tabiuttabiin dan sampai pada ulama-ulama. Hanya bedanya, karena Nabi Muhammad tidak ada lagi maka kebiasaan tersebut dilakukan kepada guru, orang tua dan siapa saja yang memang layak untuk dihormati. Mencium tangan guru kita berarti kita  memberikan penghormatan, penghargaan dan menunjukkan rasa cinta kepada pahlawan tanpa tanda jasa itu. Mencium tangan orang tua bermakna menunjukkan bakti dan cinta kita kepada keduanya. Tetapi perlu diingat mencium tangan adalah simbol, lebih dari itu penghormatan, penghargaan dan rasa cinta itu harus diwujudkan dalam perbuatan. Menjadi percuma kalau kita mencium tangan guru kita sedang banyak perbuatan yang tidak mencerminkan sebuah penghormatan. Begitupula akan sia-sia kita mencium tangan orang tua kalau di belakang mereka banyak nasehat-nasehat mereka yang tidak diindahkan. Mencium tangan membutuhkan ketulusan hati.Kebiasan mencium tangan guru ketika bersalaman sungguh sangat baik dan merupakan sunnah Rosul.
Di MTsN Malang 3 budaya mencium tangan ini  senantiasa dilestarikan. Kalau anda pada waktu pagi hari lewat di depan sekolah maka di pintu gerbang akan dapat dilihat bapak ibu guru yang tengah meyambut siswa-siswi dengan senyuman mengembang. Dan siswi-siswi pun membalas sambutan hangat Bapak/Ibu guru tadi dengan tindakan bersalaman dan mencium tangan beliau. Para siswa bersalaman dengan Bapak guru, sedangkan para siswi bersalaman dengan ibu guru, karena ini sesuia tuntunan agama. Kita patut bangga siswa-siswi MTsN Malang3 terbiasa untuk mencium tangan gurunya saat bersalaman, maka selanjutnya kebiasan itu perlu dilanjutkan dengan mewujudkan nya dalam tindakan lain yang mencerminkan rasa hormat, penghargaan yang tinggi dan cinta.  Dan hendaknya hal itu jangan hanya berlangsung di saat menjadi siswa MTsN Malang 3 saja. Murid selamanya murid dan guru selamanya guru, tidak ada mantan murid atau mantan guru. Menjadi apapun seorang siswa di masa yang akan datang dia pasti mempunyai guru yang berjasa kepadanya dan itu adalah gurunya bukan mantan gurunya.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar